Sajak Mekarnya Sang Puan: Dari Kuncup Menuju Cahaya

Admin
Sajak Mekarnya Sang Puan: Dari Kuncup Menuju Cahaya ( 3gp , Mp4 , Mkv , 360p , 480p , 720p )

 Sajak Mekarnya Sang Puan: Dari Kuncup Menuju Cahaya


 

 Kemarin, aku masih melihat jejak lumpur di ujung gaunnya,
Tawa yang lepas tanpa beban, memburu kupu-kupu di antara ilalang,
Ia adalah rintik hujan yang jatuh di atas tanah gersang,
Kecil, riang, dan menyimpan semesta dalam saku mungilnya.
Dulu, jemarinya hanya sibuk merangkai boneka jerami,
Mengejar bayang-bayang di bawah pohon kersen yang rindang,
Masa kecilnya adalah simfoni dari celoteh yang tak kunjung usai,
Sebuah kuncup yang masih betah bersembunyi dalam dekap kelopak waktu.

Namun fajar bergulir, menyeret senja yang membawa perubahan,
Tanpa suara, waktu bekerja seperti penenun yang paling tekun,
Menenun kedewasaan pada tulang-tulangnya yang kian memanjang,
Menghapus sisa-sisa bedak yang belepotan, menggantinya dengan gincu ketenangan.
Kini, kuncup itu tidak lagi malu-malu menyapa matahari,
Ia telah merekah, helai demi helai, kelopak demi kelopak,
Menjelma menjadi sesosok puan yang membawa harum surgawi,
Meninggalkan masa kecil di balik pintu yang kini tertutup rapi.

Lihatlah cara ia berjalan sekarang, tidak lagi melompat-lompat tanpa arah,
Langkahnya adalah tarian yang teratur, ritme yang mengikuti degup bumi,
Ada keanggunan yang lahir dari tiap ayunan langkahnya yang mantap,
Seolah setiap jengkal tanah yang ia pijak tumbuh menjadi taman bunga.
Bahunya yang dulu mungil kini tampak tegap memikul harapan,
Lehernya jenjang bak pualam yang dipahat oleh tangan-tangan malaikat,
Ia bukan lagi gadis kecil yang menangis karena lutut yang terluka,
Ia adalah wanita yang tahu bagaimana menyembunyikan luka di balik senyum paling tabah.



Matanya... oh, matanya tak lagi sekadar jendela rasa ingin tahu,
Kini, di dalam bola mata itu mengalir telaga yang dalam dan tenang,
Ada misteri yang terkunci di sana, sebuah kedewasaan yang baru saja menetap,
Tatapan yang mampu meruntuhkan benteng kesombongan tanpa satu pun kata.
Jika dulu matanya hanya mencari warna-warni pelangi,
Kini matanya mampu membaca isyarat langit dan duka yang tersirat,
Ada binar kecerdasan yang berpendar, sebuah cahaya yang menuntun,
Mekarnya ia bukan sekadar fisik, tapi jiwa yang mulai menemukan muaranya.

Rambutnya yang dulu terikat serampangan dengan pita warna-warni,
Kini terurai seperti air terjun malam yang hitam dan berkilauan,
Atau mungkin disanggul rapi, menyisakan anak rambut yang malu-malu menyentuh pipi,
Menambah kesan wibawa yang menyatu dengan kelembutan yang hakiki.
Suaranya yang dulu melengking tinggi di tengah lapangan luas,
Kini berubah menjadi nada-nada rendah yang menenangkan jiwa,
Setiap kata yang keluar dari bibirnya adalah mutiara yang dipilih dengan saksama,
Bukan lagi sekadar bunyi, tapi sebuah melodi yang penuh arti.

Ia adalah perpaduan antara keberanian fajar dan kelembutan senja,
Mekarnya adalah sebuah perayaan atas waktu yang tak pernah sia-sia,
Ia tidak lagi meminta perlindungan, namun ia menjadi pelindung bagi rasanya sendiri,
Ia tidak lagi sekadar bermimpi, namun ia sedang merajut mimpi menjadi kenyataan.
Kecantikannya kini bukan lagi tentang paras yang polos tanpa noda,
Tapi tentang bagaimana ia membawa dirinya di tengah badai dunia yang tak tentu arah,
Tentang bagaimana ia meletakkan keanggunan di atas segala amarah,
Dan bagaimana ia tetap mekar meski dunia terkadang lupa memberinya air.

Duhai Puan yang baru saja mekar dari kuncup masa kecilmu,
Dunia kini menatapmu dengan takjub dan penuh tanya,
Engkau adalah puisi yang sedang ditulis oleh takdir dengan tinta emas,
Sebuah mahakarya yang transisinya lebih indah dari metamorfosis kupu-kupu.
Tetaplah harum tanpa harus menyakiti, tetaplah indah tanpa harus membandingkan,
Sebab engkau adalah bunga paling langka di taman kehidupan ini,
Wanita yang baru saja terbangun dari tidur panjang masa kecilnya,
Dan kini siap menggenggam dunia dengan jemari yang penuh kelembutan.



Mekarlah terus, wahai Puan, hingga harummu menembus batas cakrawala,
Biarkan masa kecilmu menjadi akar yang kuat di bawah sana,
Menopangmu agar tetap tegak saat angin kencang mencoba merubuhkanmu,
Karena kecantikanmu yang sekarang adalah janji yang ditepati oleh waktu.
Engkau adalah bukti bahwa setiap kuncup punya masanya untuk bersinar,
Dan masamu adalah sekarang, saat ini, selamanya dalam kemilau kedewasaan.