Kakak Cantik dan Adek Nakal yang saling Bantu membantu

Admin
Kakak Cantik dan Adek Nakal yang saling Bantu membantu ( 3gp , Mp4 , Mkv , 360p , 480p , 720p )

Kakak Cantik dan Adek Nakal yang saling Bantu membantu

Di sebuah rumah yang aromanya selalu terbagi dua antara wangi parfum mawar mahal milik Rania dan bau kaus kaki keringat milik Dika terjalinlah sebuah aliansi rahasia yang lebih rumit daripada strategi perang dunia.

Rania adalah kakak perempuan yang kecantikannya sering membuat kurir paket salah tingkah. Namun, di balik wajah glowing hasil perawatan sepuluh langkah itu, Rania punya satu kelemahan fatal: dia sangat pemalas dalam urusan domestik. Sementara itu, Dika, sang adik kelas 2 SMP, adalah definisi dari kata "anak nakal." Dia bisa membuat guru BK menangis, namun dia punya bakat terpendam sebagai "eksekutor" segala urusan kotor di rumah.

Suatu Sabtu pagi, sebuah bencana melanda. Ayah dan Ibu pergi ke luar kota untuk urusan mendadak, meninggalkan instruksi sakti: "Rumah harus bersih, piring tidak boleh menumpuk, dan tugas Matematika Dika harus selesai sebelum kami pulang jam lima sore."

Rania panik. Dia ada janji kencan dengan cowok hits di kafe jam satu siang. Sementara itu, Dika sedang dalam mode "siaga satu" karena dia baru saja tidak sengaja mematahkan gagang sapu kayu kesayangan Ibu saat mencoba latihan bela diri ala ninja.

"Dek," panggil Rania dengan suara yang dimanis-maniskan, sambil menyodorkan sekaleng soda dingin. "Lo mau dapet skin Mobile Legends yang baru itu, kan?"

Dika, yang sedang mencoba menyambungkan gagang sapu dengan selotip hitam, menoleh curiga. "Ada maunya nih pasti. Berapa piring yang harus gue cuci?"

"Seluruh piring, sapu lantai, dan tolong bilang ke Ibu kalau paket skincare yang datang kemarin itu hadiah dari temen, bukan gue beli pakai uang tabungan," tawar Rania sambil mengedipkan bulu mata palsunya.

Dika menyeringai nakal. "Gampang. Tapi ada syarat tambahan. Lo harus kerjain tugas Matematika gue yang bab aljabar. Gue nggak mau otak gue meledak sebelum push rank."

Kesepakatan pun ditandatangani secara lisan. Kerja sama unik ini dimulai. Rania, yang biasanya hanya tahu cara memakai kuas eyeliner, terpaksa duduk di meja belajar Dika dengan kening berkerut, bergelut dengan rumus.      

xx dan yy

"Kenapa aljabar susah banget sih? Kenapa xx

harus dicari? Biarin aja dia hilang!" gerutu Rania sambil sesekali memoleskan lip gloss.

Di dapur, Dika bekerja layaknya koki profesional yang sedang dihukum. Dia mencuci piring dengan kecepatan cahaya, meski sesekali piringnya hampir melayang karena licin. Untuk urusan menyapu, Dika punya cara unik: dia mengikatkan kain pel di bawah skateboard-nya dan meluncur ke sana kemari di ruang tamu.

"Kak! Gue butuh bantuan!" teriak Dika saat melihat vas bunga Ibu hampir jatuh tersenggol papan luncur konyolnya.

Rania, dengan gerakan refleks yang tak pernah ia sangka miliki, melompat dari kursi dan menangkap vas itu dengan gaya kiper profesional, tepat satu senti sebelum menyentuh lantai. "Hampir saja! Kalau ini pecah, kita berdua tamat!"

Menjelang jam empat sore, rumah terlihat mengkilap. Rania sudah selesai mengerjakan tugas Matematika Dika (meskipun ada beberapa jawaban yang dia isi dengan perasaan saja). Dika juga berhasil menyembunyikan gagang sapu yang patah di balik lemari es, menggantinya dengan sapu baru yang dia beli dari uang sogokan Rania.

Tepat saat mobil orang tua mereka masuk ke garasi, Rania sudah duduk cantik di sofa sambil membaca majalah, dan Dika duduk rapi di depan bukunya, pura-pura berpikir keras.

Ibu masuk dan terperangah. "Wah, rumah bersih sekali! Rania, kamu hebat ya bisa bimbing adikmu."

Ayah memeriksa tugas Dika. "Tugas Matematikanya juga selesai? Luar biasa."

Rania dan Dika saling melirik. Rania memberikan jempol tersembunyi di balik majalah, sementara Dika membalas dengan seringai penuh kemenangan. Mereka sadar bahwa meskipun sering bertengkar, kerja sama antara si "Cantik yang Malas" dan si "Nakal yang Cerdik" adalah kombinasi paling mematikan di rumah itu.

Dosa-dosa kecil mereka, sapu patah, paket rahasia, dan tugas yang dikerjakan orang lain, terkubur rapi di balik senyum manis dan akting sempurna. Karena bagi mereka, saudara itu seperti tim perampok: harus saling bantu supaya tidak tertangkap polisi (alias Ibu).