Kedalaman kasih sayang orang tua Di Antara Langkah Ibu dan Bahu Ayah
Pepatah tua mengatakan, "Kasih ibu sepanjang jalan, kasih ayah sepanjang galah." Sewaktu kecil, Bimo sering memprotes kalimat itu. Baginya, galah itu pendek. Galah hanya beberapa meter, sementara jalanan tak pernah ada ujungnya. Bimo merasa kasih sayang Ayahnya, Pak Surya, sangat terbatas dibandingkan kasih sayang Ibunya, Bu Lastri, yang seluas samudra.
![]() |
| Inikan yang Kalian Cari YTTA0Chuill |
Ibu adalah sosok yang selalu ada. Jika Bimo jatuh, Ibu yang meniup lukanya sambil memberikan pelukan hangat. Ibu adalah "jalan" yang selalu Bimo tapaki; tempatnya pulang, tempatnya mengadu tentang nilai matematika yang jelek atau tentang gadis yang ia sukai di SMA.
Sebaliknya, Ayah adalah sosok yang pendiam. Pak Surya bekerja sebagai buruh di pabrik tekstil yang panas dan berisik. Pulang ke rumah, Ayah hanya duduk di kursi kayu tua, menyesap kopi pahit, dan bertanya singkat, "Sudah makan?" atau "Belajar yang benar." Bagi Bimo, Ayah itu kaku. Kasih sayangnya terasa sependek galah, hanya menyentuh permukaan, tidak pernah meresap sampai ke dalam hati.
Suatu sore yang mendung, Bimo yang baru lulus SMA merajuk. Ia ingin kuliah di Jakarta, tapi biayanya sangat besar. "Bu, kalau aku tidak kuliah tahun ini, mending aku pergi merantau jadi kuli saja," ucap Bimo dengan nada tinggi di meja makan.
Ibu terdiam, matanya berkaca-kaca. Ayah hanya meletakkan sendoknya pelan, lalu masuk ke kamar tanpa mengucap sepatah kata pun. Bimo kesal. "Lihat kan, Bu? Ayah bahkan tidak peduli."
Namun, malam itu, Bimo terbangun karena haus. Saat melewati kamar orang tuanya yang pintunya sedikit terbuka, ia mendengar suara parau Ayahnya.
"Lastri, tabungan dari lemburku selama lima tahun ini sepertinya cukup untuk biaya masuk Bimo. Tapi, aku harus menjual motor tua itu untuk biaya kosnya di bulan-bulan awal," bisik Ayah.
"Tapi Bapak nanti kerja jalan kaki? Pabrik itu jauh, Pak," suara Ibu terdengar bergetar.
"Tidak apa-apa. Kakiku masih kuat. Biarlah aku jadi galahnya. Biar Bimo bisa memetik buah yang tinggi, meskipun aku sendiri tidak bisa mencicipinya. Tugas galah memang begitu, kan? Membantu tangan yang pendek untuk mencapai sesuatu yang jauh di atas."
Bimo terpaku di balik pintu. Dadanya terasa sesak. Ia baru menyadari bahwa selama ini ia salah mengartikan pepatah itu. Galah memang tidak sepanjang jalan, tapi tanpa galah, seseorang tidak akan pernah bisa meraih mimpi yang letaknya tinggi di pohon kehidupan.
Tahun-tahun berlalu. Bimo sukses di Jakarta. Suatu hari, ia pulang membawa mobil baru untuk menjemput orang tuanya. Ia ingin memanjakan mereka. Namun, ia mendapati Ayahnya sudah tidak segagah dulu. Pak Surya terserang stroke ringan, kakinya yang dulu kuat berjalan kiloan meter kini harus dibantu tongkat.
Saat Bimo membantu Ayahnya berjalan menuju mobil, Ayah berbisik pelan, "Maafkan Ayah, Bin. Sekarang Ayah jadi galah yang keropos. Malah merepotkanmu."
Bimo tidak tahan lagi. Air matanya tumpah di bahu Ayahnya yang kini terasa ringkih. "Ayah salah. Dulu Ayah adalah galah yang mengangkatku sampai ke langit. Sekarang, biarkan aku yang jadi jalan bagi Ayah dan Ibu untuk beristirahat. Aku tidak butuh galah lagi, aku hanya butuh Ayah tetap ada di sini."
Ibu yang melihat dari teras hanya tersenyum sambil mengusap air mata dengan ujung daster. Ia tahu, tugasnya sebagai "jalan" tidak akan pernah usai, dan tugas suaminya sebagai "galah" telah berhasil menancapkan Bimo di puncak kesuksesan.
Cerita mereka bukan tentang siapa yang paling mencintai, tapi tentang bagaimana dua bentuk cinta yang berbeda—satu yang mendampingi setiap langkah (Ibu), dan satu yang menyangga setiap beban (Ayah)—bekerja sama untuk menciptakan sebuah keajaiban bernama keluarga.
Bimo akhirnya paham: Kasih Ibu memang sepanjang jalan, tak akan pernah putus. Namun, kasih Ayah yang sepanjang galah itulah yang membuatnya bisa menyentuh bintang. Keduanya adalah satu paket surga yang dititipkan Tuhan di dunia.
Sambil tertawa kecil di tengah tangisnya, Bimo meledek Ayahnya, "Ayah, meski galah Ayah sudah tua, tapi galah ini tetap yang paling hebat sedunia. Karena kalau tidak ada galah ini, mungkin aku cuma jadi semut yang tersesat di jalanan Ibu!"
Ayah terkekeh, sebuah tawa langka yang membuat suasana sedih itu menjadi hangat dan menghibur hati yang lara.


