Mpok Lela dan Misteri Timun Ningrat
Mpok Lela dikenal sebagai wanita paling "ajaib" di Kampung Sukamaju. Saat usia kehamilannya menginjak sembilan bulan dan perutnya sudah sebesar bola yoga, keanehannya makin menjadi-jadi. Puncaknya adalah ketika ia ngidam timun. Tapi, bukan sembarang timun; ia mencari "Timun Ningrat".
Sore itu, dengan daster macan tutul dan kacamata hitam di atas kepala, Mpok Lela menyerbu lapak sayur Bang Jaka. Wajahnya serius seperti detektif mencari barang bukti.
"Bang Jaka! Mana timun yang punya aura positif?" serunya sambil menggebrak meja kayu.
Bang Jaka melongo. "Mpok, ini timun sawah, bukan batu akik. Mana ada auranya!"
Mpok Lela tidak peduli. Ia mulai melakukan ritual aneh. Diambilnya satu timun, didekatkan ke telinga, lalu diketuk-ketuk layaknya memilih semangka matang. "Ini timunnya kurang sopan, Bang. Bunyinya cempreng. Nanti anak saya lahirannya bawel," gumamnya.
Warga yang sedang belanja mulai berbisik-bisik, mengira Mpok Lela sedang mengajak bicara sayuran. Tak lama, Mpok Lela menemukan satu timun yang panjang, lurus, dan sangat hijau. Matanya berbinar. Ia tidak langsung membelinya, melainkan mengelus timun itu ke perutnya yang buncit.
"Sabar ya, Nak. Ini calon teman bermainmu," bisiknya mesra.
"Mpok, itu mau dibeli atau mau diajak kenalan?" sindir Bang Jaka gemas.
Tanpa babibu, Mpok Lela langsung menggigit timun mentah itu dengan suara "KREKK!" yang sangat nyaring. Semua orang terdiam. Sambil mengunyah dengan penuh khidmat, ia memejamkan mata.
"Luar biasa... Rasanya seperti sedang dipijat bidadari," serunya puas.
Setelah menghabiskan setengah timun di tempat, Mpok Lela meminta maaf pada sisa timun di dalam plastik. "Maaf ya, teman kalian saya makan duluan. Jangan dendam, nanti kalian saya jadikan acar yang bahagia."
Bang Jaka hanya bisa mengelus dada saat Mpok Lela pergi sambil bersenandung kecil. "Untung cuma ngidam timun," gumam Bang Jaka. "Coba kalau ngidam aspal jalanan, bisa habis satu kecamatan!"

