Pelajaran Kakak untuk Adik Tercinta
Di sebuah sore yang gerah, Dino (17 tahun) merasa terpanggil jiwanya untuk memberikan "warisan ilmu" kepada adiknya, Dika (10 tahun). Dino merasa sebagai kakak yang sudah makan asam garam (dan lebih banyak makan mie instan diam-diam), dia punya tanggung jawab moral untuk mengajarkan cara bertahan hidup di bawah rezim "Ratu Penguasa Dapur" alias Mama.
![]() |
| Selalu ingat PW nya dulu |
"Dika, sini. Duduk. Kakak mau kasih pelajaran hidup yang nggak bakal diajarin di sekolah," kata Dino dengan wajah seserius profesor yang mau membedah atom.
Dika yang lugu langsung duduk bersila. "Pelajaran apa, Kak? Cara dapet diamond gratis?"
Dino menggeleng pelan. "Lebih penting dari itu. Ini adalah: Seni Menghindari Suruhan Mama Tanpa Terdeteksi Radar."
Dika melongo. Dino mulai menjelaskan jurus pertamanya. "Pertama, Jurus Menjadi Perabot. Kalau kamu dengar suara langkah Mama mendekat sambil manggil nama kamu, jangan lari. Kalau lari, kamu jadi target. Kamu harus diam, tahan napas, dan berpura-pura jadi bantal sofa atau gantungan baju. Kalau perlu, jangan berkedip selama tiga menit."
"Tapi Kak, kalau Mama tetep lihat gimana?" tanya Dika kritis.
"Itulah gunanya Jurus Kedua: Psikologi Terbalik," lanjut Dino. "Misal, Mama nyuruh kamu beli galon. Jangan nolak. Tapi bilang gini, 'Ma, Dika mau banget beli galon, tapi tadi di jalan Dika lihat ada diskon besar di toko sebelah, tapi Dika lupa toko yang mana, nanti Dika cari dulu ya sampai ketemu.' Mama pasti pusing sendiri dan akhirnya nyuruh Kakak... eh, maksudnya nyuruh orang lain."
Tiba-tiba, suara menggelegar terdengar dari arah dapur. "DIKAAA! DINOOO! INI KAMAR MANDI KENAPA MASIH KOTOR? KATANYA MAU BERSIHIN!"
Dino langsung pucat. "Oke Dika, ini ujian praktik. Gunakan Jurus Ketiga: Serangan Balik Lewat Pertanyaan."
Mama masuk ke kamar dengan berkacak pinggang. "Dino! Dika! Kok malah ngerumput di sini? Cepat sikat kamar mandi!"
Dika, dengan polosnya mengikuti saran kakaknya, bertanya dengan wajah sok bijak, "Ma, sebelum Dika sikat, Dika mau tanya... Apa arti kebersihan bagi Mama dalam perspektif estetika ruang tamu?"
Hening sejenak. Dino menepuk jidatnya. Salah skrip, bocil! batinnya.
Mama menyipitkan mata. "Oh, mau main filsafat ya? Oke. Perspektif estetika Mama adalah: kalau dalam sepuluh menit itu kamar mandi nggak kinclong, perspektif uang jajan kalian bulan depan bakal jadi 'gaib' alias hilang. Paham?"
Dika dan Dino langsung berdiri tegak. "SIAP, KAPTEN!"
Sambil membawa sikat dan sabun, Dika berbisik pada Dino, "Kak, katanya tadi jurusnya ampuh?"
Dino mendesah sambil mulai menyikat lantai. "Ilmu Kakak sudah tinggi, Dika. Tapi setinggi-tingginya ilmu kakak, tetap akan mental kalau berhadapan dengan 'Sandal Jepit Terbang' milik Mama. Itu pelajaran paling berharga hari ini: Jangan pernah melawan pemegang remote TV."
Dika manggut-manggut. "Berarti besok kita belajar cara minta uang jajan tambahan ya, Kak?"
Dino tersenyum kecut. "Besok kita belajar cara memuji masakan Mama yang keasinan supaya tetep dapet jatah ayam goreng. Itu lebih aman buat keselamatan nyawa kita."
Sore itu, dua bersaudara itu belajar satu hal penting: di rumah ini, Kakak boleh jadi guru, tapi Mama tetaplah Kepala Sekolah, Rektor, sekaligus Hakim Garis yang tidak bisa diganggu gugat.

