Preman Garang, Lolipop, dan Harga Diri yang Runtuh

Admin
Preman Garang, Lolipop, dan Harga Diri yang Runtuh ( 3gp , Mp4 , Mkv , 360p , 480p , 720p )

Preman Garang, Lolipop, dan Harga Diri yang Runtuh

Di sebuah gang sempit yang dikenal sebagai "Gang Senggol Bacok," hiduplah seorang preman bernama Bang Garong. Nama aslinya sebenarnya adalah Bambang, tapi supaya terlihat sangar, ia mengubahnya menjadi Garong. Penampilannya sungguh meyakinkan: jaket kulit yang sudah mengelupas di sana-sini, celana jin robek di bagian lutut (yang sebenarnya robek karena terjatuh dari motor, bukan gaya-gayaan), dan tato gambar naga di lengan kanannya. Sayangnya, naga itu lebih mirip cacing kepanasan karena pembuat tatonya sedang mengantuk saat mengerjakannya.


Sore itu, perut Bang Garong keroncongan. Uang di sakunya hanya tinggal dua ribu rupiah, hanya cukup untuk membeli kerupuk kaleng. Ia butuh "mangsa." Tak lama kemudian, munculah Ucup, seorang bocah kelas satu SD yang berjalan santai sambil mengulum permen lolipop raksasa berwarna merah muda. Ucup berjalan dengan penuh percaya diri, tas punggungnya yang bergambar Spider-Man bergoyang-goyang mengikuti langkah kakinya.

Bang Garong memasang wajah paling seram yang ia miliki. Ia melompat dari balik tempat sampah dan menghadang jalan Ucup. "Heh, Bocil! Berhenti!" teriaknya dengan suara yang diusahakan seberat mungkin, meski malah terdengar seperti orang sedang tersedak biji salak.

Ucup berhenti. Ia mendongak, menatap Bang Garong dengan mata bulatnya yang polos. Ia sama sekali tidak terlihat takut. "Eh, Om Naga Cacing. Ada apa?" tanya Ucup santai sambil terus mengulum lolipopnya.

Bang Garong melotot. "Naga Cacing?! Ini naga api, Dek! Jangan sembarangan! Sekarang, serahkan semua uang sakumu kalau mau lewat dengan selamat. Cepat!"

Ucup merogoh saku celananya. Ia mengeluarkan tangannya yang ternyata kosong. "Uang Ucup sudah habis buat beli permen ini, Om. Harganya mahal, lima ribu rupiah. Tadi Ucup nawar tapi nggak dikasih."

Bang Garong tidak percaya. "Masa nggak ada seribu-seribu dua ribu? Cek lagi tasmu!"


Ucup membuka tas Spider-Man-nya. Alih-alih uang, di dalamnya hanya ada buku gambar, krayon yang sudah patah-patah, dan sebuah kaus kaki sebelah yang entah mengapa ada di sana. Bang Garong menghela napas panjang. Ia merasa gagal sebagai preman. Harga dirinya jatuh sejatuh-jatuhnya karena dipalak saja ia tidak bisa, apalagi memalak bocah yang hartanya hanya sebatang lolipop.

"Aduh, Dek... Om ini lapar. Masa Om harus makan kaus kaki kamu?" keluh Bang Garong, mulai melupakan akting sangarnya.

Melihat wajah Bang Garong yang tiba-tiba melas, hati Ucup terketuk. Ia merasa kasihan melihat preman besar itu hampir menangis. Dengan gerakan perlahan, Ucup melepaskan permen lolipop dari mulutnya. Permen itu sudah basah kuyup terkena air liur Ucup, warnanya pun mulai memudar.

"Ya sudah, Om. Karena Om kelihatannya lapar banget dan nggak punya uang, ini buat Om saja," kata Ucup sambil menyodorkan permen lolipop bekasnya itu tepat ke depan hidung Bang Garong.

Bang Garong tertegun. Ia melihat permen lolipop yang berkilau karena air liur itu. "Ini... buat Om?"

"Iya, Om. Kata Mama, kita harus berbagi dengan orang yang kurang beruntung, apalagi yang wajahnya kelihatan susah kayak Om," jawab Ucup dengan nada sangat tulus.

Entah karena lapar yang sudah mencapai ubun-ubun atau karena terharu dengan kebaikan Ucup, Bang Garong menerima permen itu. Ia memasukkan lolipop itu ke mulutnya. "Slruupp..." bunyi Bang Garong mengulum permen itu.

Tiba-tiba, rasa manis yang luar biasa bercampur dengan sensasi stroberi buatan memenuhi mulut Bang Garong. Di saat yang sama, ia membayangkan betapa konyolnya dirinya: seorang preman tatoan, berdiri di tengah gang, sedang asyik mengulum permen lolipop bekas bocah SD.

Tiba-tiba, Bang Garong meledak dalam tawa. "Bwahahaha! Hahaha!" Ia tertawa terpingkal-pingkal sampai memegangi perutnya. Ia membayangkan jika teman-teman premannya melihat kejadian ini, ia pasti akan dipensiunkan dini dari dunia persilatan preman.

Ucup yang melihat Bang Garong tertawa, ikut tertawa juga meski ia tidak tahu apa yang lucu. "Tuh kan, Om, permennya bikin bahagia!"


"Iya, Cup! Kamu benar! Hahaha!" Bang Garong tertawa sambil mengelus kepala Ucup. "Sudah, sana pulang. Lain kali kalau bawa uang banyak, lewat sini lagi ya, biar Om jagain!"

Ucup melambaikan tangan dan berlari pulang, sementara Bang Garong duduk di pinggir selokan, masih dengan lolipop di mulutnya, tertawa sendiri meratapi nasibnya yang hari itu resmi menjadi "Preman Spesialis Permen Lolipop." Sore itu, Gang Senggol Bacok tidak lagi terasa seram, melainkan dipenuhi suara tawa seorang preman yang baru saja kalah telak oleh kebaikan seorang bocah.