Tragedi "Siap, Martabak!" dan Perut yang Berkhianat
Suasana ruang OSIS sore itu terasa lebih mencekam daripada film horor manapun. AC sengaja dimatikan, dan hanya ada satu lampu neon yang berkedip-kedip seolah sedang sakratulmaut. Di depan kami, Kak Galih, ketua OSIS yang terkenal dengan julukan "Singa Sekolah," berdiri dengan tangan bersedekap. Wajahnya ditekuk sedemikian rupa sampai-sampai alisnya hampir menyambung jadi satu.
![]() |
| Drama YTTA Uhuii.. |
"Kalian tahu kenapa kalian di sini?" tanya Kak Galih dengan suara berat yang dibuat-buat supaya terdengar berwibawa.
Kami semua menunduk. Di sebelah kanan saya, Budi sudah gemetaran. Masalahnya, Budi ini kalau takut bukan berkeringat, tapi malah ngantuk. Dan benar saja, di tengah suasana tegang itu, kepala Budi mulai anggut-anggutan kayak burung tekukur.
"Budi! Kamu denger saya?!" bentak Kak Galih sambil menggebrak meja.
Budi tersentak kaget. Matanya melotot, tapi nyawanya sepertinya belum terkumpul utuh. Secara refleks, dia berdiri tegak, melakukan posisi hormat yang salah (pakai tangan kiri), dan berteriak, "SIAP, KAK! MARTABAK TELUR DUA, NGAK PAKAI DAUN BAWANG!"
Hening. Satu ruangan mendadak beku. Kak Galih yang tadinya mau marah besar malah bengong, mulutnya agak menganga. Saya dan teman-teman lain sudah mati-matian menggigit bibir supaya tidak meledak tertawa. Bayangkan, di tengah orasi tentang dedikasi dan loyalitas, malah ada pesanan martabak.
"Kamu pikir saya tukang ojek online?" desis Kak Galih, mukanya merah padam.
Belum sempat Budi minta maaf, penderitaan kami berlanjut. Perut saya, yang dari tadi siang belum kemasukan nasi karena sibuk menyiapkan proposal, tiba-tiba memutuskan untuk ikut berdiskusi. Di tengah kesunyian yang mencekam itu, perut saya mengeluarkan bunyi yang sangat dramatis.
“Kruuuuuuuuuk... pwooooottt....”
Suaranya panjang, meliuk-liuk, dan diakhiri dengan nada tinggi yang sangat merdu sekaligus memalukan. Saking kencangnya, teman di sebelah kiri saya sampai menoleh dengan tatapan ngeri, seolah-olah ada paus terdampar di dalam seragam saya.
Kak Galih memijat pelipisnya. "Siapa itu tadi?"
Saya angkat tangan dengan gemetar. "Siap, Kak. Itu... itu suara kursi bergeser, Kak."
"Kursi mana yang suaranya pakai vibrasi gitu, Rian?" tanya Kak Galih sarkastik.
Suasana yang harusnya penuh disiplin berubah total jadi absurd. Untuk mencairkan suasana (atau mungkin karena dia juga sudah lapar), Kak Galih akhirnya menghela napas panjang.
"Oke, sesi bimbingan mental hari ini kita ganti. Karena ada yang mau martabak dan ada yang perutnya sudah konser, kalian semua dihukum..." Kak Galih menggantung kalimatnya, membuat kami deg-degan. "...hukumannya adalah patungan beli martabak buat makan bareng di sini. Sekarang!"
Kami semua bersorak. Ternyata, "Singa Sekolah" itu luluh juga sama martabak dan bunyi perut keroncongan. Sore itu, ruang OSIS yang tadinya menyeramkan berubah jadi warung dadakan. Budi tetap kena omel, tapi setidaknya dia berhasil mendapatkan martabaknya—tentu saja, lengkap dengan daun bawang karena Kak Galih yang memesan.
Satu pelajaran berharga hari ini: jangan pernah ikut bimbingan OSIS dengan perut kosong, kecuali kamu siap menanggung malu karena perutmu punya bakat terpendam jadi vokalis band metal.

