Petualangan Intan: Rahasia di Balik Buku LKS yang Tebal
Dunia persilatan bocah SD kelas 5 sedang tidak baik-baik saja bagi Intan. Besok adalah ulangan Matematika, mata pelajaran yang menurut Intan lebih sulit daripada memahami kenapa Upin dan Ipin tidak pernah tumbuh besar. Ibunya, Nyai Salmah, sudah memberikan titah keramat sejak magrib tadi: "Satu jam belajar, atau HP disita buat selamanya!"
Intan pun masuk ke kamar dengan wajah lesu yang dibuat-buat agar ibunya iba. Di atas meja belajar, buku LKS Matematika sudah terbuka lebar, memamerkan angka-angka rumit yang terlihat seperti barisan semut pusing. Namun, di balik buku LKS yang berdiri tegak itu, terselip sebuah benda keramat yang lebih bercahaya dari masa depan Intan: sebuah Smartphone dengan baterai 95%.
Strategi Intan sangat rapi. Ia duduk tegak, tangannya memegang pulpen seolah-olah sedang mencakar kertas buram. Padahal, mata dan jempolnya sedang asyik menelusuri video pendek di TikTok dan YouTube. Sesekali ia tertawa tanpa suara sampai bahunya berguncang, lalu cepat-cepat berdeham, "Ehem... jadi akar pangkat dua dari 64 adalah... ya, betul..." gumamnya akting, supaya ibunya yang sedang menyetrika di ruang tengah merasa bangga.
Intan merasa dirinya adalah agen rahasia kelas dunia. Ia sedang asyik menonton video "Tutorial Cara Menjadi Pro Player Game Tanpa Harus Mandi", ketika tiba-tiba suasana kamar terasa dingin. Ada hawa-hawa tidak enak yang menusuk tengkuknya.
"Intan... serius amat belajarnya, Nak?" suara lembut itu muncul dari balik pintu yang ternyata sudah terbuka sedikit.
Intan kaget setengah mati. Refleksnya melampaui atlet e-sport. Ia langsung membanting HP-nya ke kolong meja dan pura-pura menulis dengan sangat cepat di atas buku. "Iya, Ma! Ini lagi menghitung volume kerucut yang diisi es cendol! Rumusnya susah banget!" jawab Intan sambil berkeringat dingin.
Nyai Salmah masuk perlahan. "Oh, volume kerucut ya? Tapi kok Mama denger ada suara musik 'Jedag-Jedug' dari balik buku kamu tadi?"
"Itu... itu suara tetangga, Ma! Si Udin kayaknya lagi hajatan di rumahnya!" alasan Intan makin ngawur, padahal rumah Udin jaraknya dua blok.
Nyai Salmah tidak langsung marah. Beliau tersenyum manis, senyum yang biasanya menandakan badai kategori lima akan segera datang. Beliau mendekat, lalu menjumput sesuatu dari bawah meja. Itu HP Intan. Layarnya masih menyala, menampilkan video seorang pria yang sedang menari dengan lagu pargoy.
"Wah, ternyata kerucutnya bisa pargoy ya, Tan?" sindir Nyai Salmah.
Intan hanya bisa nyengir kuda. "Anu, Ma... itu tadi iklan lewat sendiri. Intan mau tutup tapi jempol Intan kram."
"Jempol kram ya? Oke, kalau begitu Mama bakal kasih 'Bimbingan Belajar Privat Terpadu' khusus buat Intan malam ini. Biar jempol kamu nggak kram lagi buat pegang HP," kata Nyai Salmah sambil menarik kursi dan duduk tepat di samping Intan.
Inilah awal dari penderitaan Intan yang sesungguhnya. Nyai Salmah tidak menyita HP-nya secara kasar, tapi beliau mengambil alih meja belajar. Beliau mengeluarkan "senjata" andalannya: sebuah penggaris besi dan tatapan mata yang bisa membelah atom.
"Sekarang, kita belajar beneran. Kalau kamu salah hitung satu soal, durasi main HP kamu besok berkurang satu jam. Kalau salah dua soal, HP kamu Mama rendam bareng cucian piring!" ancam Nyai Salmah.
Intan gemetar. Bimbingan belajar ala ibunya sangatlah unik. Saat Intan kesulitan menghitung pembagian, ibunya tidak menjelaskan pakai teori, tapi pakai logika gorengan. "Tan, kalau Mama punya 50 tempe mendoan, terus dimakan sama 5 orang temen arisan Mama yang mulutnya kayak mesin giling, satu orang dapet berapa?!"
"Sepuluh, Ma!" jawab Intan cepat.
"Pinter! Nah, sekarang kerjain ini di buku!"
Selama dua jam, Intan benar-benar "digembleng". Tidak ada lagi video TikTok, tidak ada lagi suara jedag-jedug. Yang ada hanyalah suara gesekan penggaris besi dan suara napas Intan yang memburu karena takut salah hitung. Setiap kali Intan melirik ke arah HP-nya yang tergeletak di meja rias, ibunya langsung berdeham keras, "Ehem! Fokus ke mendoan, jangan fokus ke layar!"
Setelah melalui sesi belajar paling menegangkan dalam sejarah hidupnya, akhirnya Intan berhasil menyelesaikan semua soal latihan. Bajunya basah kuyup seperti baru pulang dari sauna.
"Nah, gitu dong. Belajar itu yang bener. Jangan HP terus yang dipelototin. Sekarang tidur! Besok kalau nilai ulangan kamu di bawah 80, Mama bakal kasih bimbingan belajar tambahan pakai metode 'Spatula Kayu'," ucap ibunya sambil berlalu membawa HP Intan untuk "diamankan" sampai besok pagi.
Intan naik ke tempat tidur dengan lemas. Ia menyadari satu hal: Ternyata belajar matematika bareng ibunya jauh lebih horor daripada main game horor di HP. Malam itu, Intan bermimpi angka-angka berubah jadi tempe mendoan yang mengejar-ngejarnya sambil membawa penggaris besi. Sejak saat itu, Intan kapok main HP di waktu belajar, karena ia tahu, "intelijen" ibunya jauh lebih canggih daripada algoritma media sosial manapun.

