Tragedi Toilet dan Nilai Merah Sang Profesor Cilik

Admin
Tragedi Toilet dan Nilai Merah Sang Profesor Cilik ( 3gp , Mp4 , Mkv , 360p , 480p , 720p )

Tragedi Toilet dan Nilai Merah Sang Profesor Cilik

Di sebuah perumahan yang tenang, tinggallah seorang anak laki-laki bernama Alif. Alif bukan bocil sembarangan. Di saat teman-sebaya-nya masih sibuk memperebutkan kartu Pokemon atau main lato-lato sampai tangannya biru, Alif lebih suka mendekam di kamar. Ia adalah seorang introvert garis keras yang jenius. Koleksi bacaannya bukan komik Shin-chan, melainkan buku "Panduan Praktis Membuat Roket dari Botol Bekas" dan "Dasar-Dasar Coding untuk Balita."


Kamar Alif adalah laboratorium rahasia. Ada tumpukan kabel, papan sirkuit, dan poster Albert Einstein yang sedang menjulurkan lidah—yang menurut Alif adalah pose paling keren di dunia. Namun, sepintar-pintarnya Alif, ia tetaplah seorang bocil SD yang punya satu kelemahan fatal: sambal ulek buatan kantin sekolah.

Suatu sore, suasana rumah yang damai mendadak pecah. Ibu Alif, Bu Ratna, masuk ke kamar Alif dengan wajah yang lebih merah dari lipstik yang ia pakai ke kondangan. Di tangannya, ia memegang selembar kertas ulangan Matematika. Di sana, tertera angka "20" yang ditulis dengan spidol merah besar, seolah-olah kertas itu sedang berdarah.

"Alif! Jelaskan ini!" teriak Bu Ratna. "Kamu ini biasanya ranking satu! Kamu bisa menghitung kecepatan cahaya sambil makan kerupuk, tapi kenapa nilai matematika dasar ini cuma dua puluh? Kamu nulis nama doang apa gimana?!"

Alif, yang sedang asyik meneliti mikroskop buatannya, menoleh pelan. Alih-alih takut atau menangis seperti bocil pada umumnya, Alif justru tertawa kecil. "Hehehe... Ibu sudah lihat ya? Maaf ya, Bu, itu sebenarnya nilai paling bersejarah dalam hidup Alif."

Bu Ratna melongo. "Bersejarah gimana? Kamu malas belajar karena kebanyakan nonton tutorial rakit komputer?"

Alif menggeleng sambil tetap terkekeh. Ia membenarkan letak kacamata bulatnya yang melorot. "Bukan, Bu. Alif bukan nggak bisa jawab. Alif itu cuma nggak sempat jawab. Hari itu, perut Alif sedang mengadakan konser heavy metal di dalam."

"Maksud kamu?"

Alif pun mulai bercerita dengan gaya dramatis. "Jadi begini, Bu. Pagi sebelum ulangan, Alif nekat nyobain 'Cilok Mercon Level Mahameru' di kantin Mang Oleh. Pas masuk kelas dan bel ulangan bunyi, awalnya aman. Tapi pas Pak Guru baru bagiin kertas, tiba-tiba ada suara 'kruek-kruek-duar' dari perut Alif. Itu bukan suara lapar, Bu. Itu suara peringatan dini tsunami di usus."


Bu Ratna mulai menahan tawa, tapi masih mencoba berakting galak.

"Alif baru baca soal nomor satu: 'Berapakah hasil dari 25 dikali 4?'. Gampang banget kan, Bu? Alif baru mau nulis '100', eh... perut Alif mendadak mulesnya minta ampun. Rasanya seperti ada naga yang lagi demo masak di dalam perut. Akhirnya Alif angkat tangan dan lari ke WC sekolah."

"Terus?" tanya Bu Ratna penasaran.

"Nah, di WC sekolah itu perjuangannya berat, Bu! Pintunya nggak bisa dikunci, jadi Alif harus nahan pintu pakai kaki sambil konsentrasi. Pas sudah merasa lega dan balik ke kelas, Alif baru mau duduk, eh... si naga di perut teriak lagi! 'Balik lagi ke WC, Alif! Pertunjukan belum selesai!' begitu katanya."

Alif tertawa sampai memegangi perutnya mengenang kejadian itu. "Alif bolak-balik WC-Kelas itu sampai lima kali, Bu. Pak Guru sampai bingung, dikiranya Alif lagi latihan maraton atau lagi main petak umpet sama hantu WC. Pas Alif balik terakhir kalinya ke kelas dengan wajah pucat dan badan lemas, eh... bel pulang sudah bunyi."

"Jadi itu alasan nilai kamu dua puluh?" Bu Ratna mulai ikut tertawa terbahak-bahak.

"Iya, Bu! Angka dua puluh itu pun sebenarnya bukan hasil hitungan Alif. Itu cuma nomor absen yang Alif tulis di kolom jawaban karena sudah nggak fokus lagi. Pikiran Alif cuma satu saat itu: bagaimana caranya supaya nggak 'meledak' di kursi kayu sekolah yang keras itu. Alif lebih milih dapat nilai merah daripada harus jadi legenda 'Bocil Bau' seumur hidup di sekolah!"

Mendengar penjelasan jujur dan polos dari anak jeniusnya itu, kemarahan Bu Ratna luntur seketika. Ia tertawa terpingkal-pingkal sampai air mata keluar, membayangkan anaknya yang biasanya cool dan serius harus lari-lari nahan pintu WC sambil menghitung algoritma di kepala.

"Duh, Alif... Alif! Ya sudah, kali ini Ibu maafkan. Tapi lain kali, kalau mau ulangan, jangan sok jago makan cilok mercon ya! Jenius kok kalah sama sambal!"


Alif cuma nyengir lebar. "Siap, Bu! Pelajaran berharga hari ini: Sepintar-pintarnya manusia, tetap akan tunduk pada panggilan alam yang mendesak!"

Sore itu pun berakhir dengan tawa. Sang bocil jenius kembali ke dunianya, tapi kali ini ia menjauhkan buku sainsnya dan lebih memilih membaca botol obat sakit perut, berjaga-jaga kalau si naga di perutnya bangun lagi.