Cerita Bocil Kekinian | Kekuatan Permen Cokelat dan Adik Ajaib

Admin
Cerita Bocil Kekinian | Kekuatan Permen Cokelat dan Adik Ajaib ( 3gp , Mp4 , Mkv , 360p , 480p , 720p )

 Judul: Kekuatan Permen Cokelat dan Adik Ajaib

Sore itu, suasana rumah yang seharusnya tenang berubah menjadi medan perang mental. Aku duduk di meja makan dengan segelas kopi pahit yang mulai dingin, sementara di depanku duduklah Rara, adik perempuanku yang berusia tujuh tahun. Wajahnya tampak polos, matanya bulat bersinar seperti lampu bohlam baru, tapi jangan tertipu. Di balik wajah malaikat itu, tersembunyi logika yang mampu membuat Albert Einstein memilih untuk jualan bakso saja.

Drama YTTAChuil Indo new


"Rara, dengerin Kakak. Kalau Rara punya dua apel, terus Kakak kasih lagi dua apel, sekarang apel Rara ada berapa?" tanyaku dengan sisa-sisa kesabaran.

Rara mengerutkan keningnya dalam-dalam. "Enggak ada, Kak," jawabnya mantap.

Aku menarik napas panjang. "Kok enggak ada? Kan dua ditambah dua."

"Ya soalnya apelnya udah Rara kasih ke kelinci tetangga. Kelincinya laper, Kak. Kakak jahat banget sih mau makan apel sendirian sementara kelinci itu kurus!" ucapnya dengan nada menuduh. Aku memijat pelipis. Ini baru pertanyaan pertama, dan aku sudah merasa butuh asuransi jiwa.

"Oke, kita ganti objeknya. Bukan apel. Bayangkan Rara punya satu permen, lalu Ibu kasih satu lagi. Jadi berapa?"

Rara menatap plafon, berpikir keras. "Jadi... rebutan sama Kakak!"

"Rara!" teriakku frustrasi. "Ini matematika, bukan drama keluarga! Satu tambah satu itu dua! Dua!"

Rara malah cemberut. "Kakak galak. Matematika itu bikin laper. Rara nggak mau mikir kalau perut Rara sedih." Ia mulai memainkan pensilnya, menjadikannya pesawat terbang yang mendarat di atas buku tulisnya yang masih kosong melompong. Aku merasa jiwaku perlahan terbang meninggalkan raga. Mengajari Rara lebih sulit daripada menjelaskan teori kuantum kepada seekor kucing.


Setelah hampir satu jam berdebat tentang mengapa angka delapan bentuknya seperti kacang tanah dan mengapa angka nol itu tidak berguna karena "isinya cuma angin", aku hampir menyerah. Kepalaku puyeng tujuh keliling. Rasanya seperti sedang mencoba mengunduh file 100 GB dengan sinyal satu bar di tengah hutan.

Tiba-tiba, aku teringat sesuatu. Aku merogoh saku jaket dan menemukan sebuah "harta karun": sebutir permen coklat karamel yang ukurannya cukup besar.

"Rara, lihat ini," kataku sambil menggoyang-goyangkan permen itu di depan matanya.

Mata Rara langsung membelalak. Pupil matanya melebar, fokusnya terkunci total pada bungkus coklat yang berkilau itu. "Permen coklat?!"

"Iya. Tapi syaratnya, Rara harus kerjain sepuluh soal ini dengan benar. Kalau bener semua, permen ini buat Rara. Tapi kalau salah satu aja... Kakak makan di depan muka Rara."

Tanpa babibu, Rara menyambar permen itu, membukanya dengan kecepatan cahaya, dan langsung melahapnya. "Oke, sekarang Rara siap!" serunya.


Ajaib. Benar-benar ajaib. Begitu coklat itu menyentuh lidahnya, suasana berubah. Atmosfer di ruangan itu mendadak jadi serius. Rara yang tadinya loyo dan menyebalkan tiba-tiba bertransformasi menjadi Bocil Jenius.

"Soal nomor satu," gumamnya sambil memegang pensil dengan posisi sempurna. "Dua pangkat tiga ditambah akar dari enam puluh empat... oh, gampang. Delapan tambah delapan, enam belas. Lanjut!"

Aku melongo. "Eh, tunggu, itu kan soal anak SMP yang nggak sengaja Kakak tulis di coretan!"

Rara tidak peduli. Tangannya menari-nari di atas kertas. "Nomor dua, pembagian pecahan. Balikkan pembilangnya, kalikan. Hasilnya lima per delapan. Selesai! Nomor tiga, luas lingkaran... jari-jari tujuh, pakai dua dua per tujuh. Seratus lima puluh empat! Gampang banget sih, Kak? Kakak sekolahnya dulu tidur ya?"

Aku hanya bisa ternganga melihat pemandangan di depanku. Adikku yang tadi bersikeras bahwa "satu ditambah satu adalah sebuah genangan air" sekarang sedang menyelesaikan soal matematika tingkat lanjut dengan kecepatan seperti prosesor komputer terbaru. Apakah coklat itu mengandung RAM tambahan? Atau jangan-jangan Rara sebenarnya adalah agen rahasia yang hanya bisa aktif jika dipicu oleh glukosa?

Dalam waktu kurang dari sepuluh menit, seluruh halaman buku itu penuh dengan jawaban yang benar, rapi, dan sistematis. Rara meletakkan pensilnya dengan gaya dramatis, lalu bersendawa kecil.


"Udah selesai. Mana permen lagi? Otak Rara masih mau lari, tapi bensinnya abis," katanya sambil nyengir lebar, kembali ke mode bocil polos yang menyebalkan.

Aku hanya bisa menghela napas, antara kagum dan kesal. Ternyata, kunci kecerdasan adikku bukan pada buku atau penjelasan yang logis, melainkan pada asupan coklat. Sejak hari itu, aku selalu sedia stok permen di saku. Karena bagiku, lebih baik kehilangan beberapa butir permen daripada kehilangan kewarasan menghadapi logika ajaib seorang adik perempuan.