Cerita Lucu | Mamah muda penjual Es Kelapa Vs Bochell Kekinian
Siang itu, matahari sedang semangat-semangatnya memancarkan sinar yang bikin aspal jalanan serasa bisa buat goreng telur. Siska, seorang mamah muda yang tetap tampil glowing meski harus berjualan es kelapa muda di pinggir jalan, sedang sibuk mengelap keringat di dahi. Ia baru saja selesai menata deretan kelapa hijau yang menggoda.
![]() |
| Drama YTTAChuioll IND0new |
Tiba-tiba, datanglah seorang bocah laki-laki berusia sekitar 6 tahun bernama Adit. Dengan kaus kutang dan sandal jepit yang bunyinya plok-plok, ia menatap deretan kelapa itu dengan tatapan penuh selidik, seperti detektif sedang memeriksa barang bukti.
"Tante Cantik, beli es kelapanya satu. Tapi airnya yang dari kelapa yang lagi bahagia ya," ucap Adit polos.
Siska tersenyum manis, "Bisa aja kamu, Dek. Emang ada kelapa yang sedih?"
"Ada, Tante. Yang udah dijatuhin tapi nggak ditangkep, itu pasti galau," jawab Adit yang membuat Siska tertawa kecil. Namun, tawa itu tak bertahan lama.
Sambil Siska mulai mengupas kelapa dengan goloknya, Adit memulai rentetan "serangan" pertanyaannya.
"Tante, kelapa ini asalnya dari mana sih?"
"Dari pohon, sayang," jawab Siska sabar.
"Pohonnya dapet dari mana? Beli di Shopee?"
"Nggak dong. Dari tunas kelapa. Ditanem di tanah, terus tumbuh tinggi."
Adit manggut-manggut, tapi sedetik kemudian matanya melotot. "Terus Tante, gimana caranya air bisa masuk ke dalem kelapa? Kan kelapanya rapet banget nggak ada lubangnya. Tante suntik ya semalem pas kelapanya lagi tidur?"
Siska mulai menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Eh, itu... itu alami, Dek. Airnya meresap dari akar, terus naik ke atas, masuk ke buahnya."
"Hah? Akar kan di tanah yang kotor? Berarti air kelapa ini air got yang disaring sama pohon ya, Tante? Wah, pohon kelapa pinter banget ya punya filter kayak dispenser Mama di rumah!"
Siska nyengir kuda. "Ya... nggak gitu juga konsepnya, Dek. Tapi ya sudahlah, pokoknya airnya bersih kok."
Belum sempat Siska menuangkan air kelapa ke plastik, Adit bertanya lagi. "Tante, kenapa pohon kelapa itu tinggi banget? Kenapa nggak pendek aja kayak rumput? Kan kasihan monyetnya capek kalo mau ambil."
"Ya kalau pendek nanti buahnya dimakan kambing, Adit sayang..."
"Tapi kalau tinggi, apa pohon kelapa nggak pusing kalo kena angin? Aku aja naik ayunan tinggi dikit udah pengen muntah, Tante. Apa pohon kelapa pernah muntah? Kalo dia muntah, jadinya apa? Jadi santan ya?"
Siska mulai merasa tensinya naik sedikit. "Pohon nggak bisa muntah, Dek! Sudah ya, ini esnya mau pake gula merah apa gula putih?"
"Gula merah aja, biar kayak warna pipi Tante kalau lagi marah," celetuk Adit tanpa dosa. "Terus Tante, kenapa namanya 'Kelapa Muda'? Kenapa nggak 'Kelapa Remaja' atau 'Kelapa Menuju Dewasa'? Terus kalau udah tua, apa dia bakal keriput kayak kakek aku?"
Siska menarik napas dalam-dalam, mencoba mempertahankan senyum skincare-nya agar tidak luntur. "Iya, kalau tua namanya kelapa tua, buat santan. Udah ya, ini esnya..."
"Tunggu, Tante! Satu lagi! Kenapa kelapa punya rambut? Itu yang serabut-serabut cokelat itu. Apa dia nggak pernah ke salon? Atau dia emang sengaja manjangin rambut biar kayak anggota band rock?"
Siska mematung dengan gelas plastik di tangan. Ia menatap serabut kelapa di depannya, lalu menatap Adit. Pertanyaan itu benar-benar di luar nalar seorang penjual es kelapa yang hanya ingin mencari uang tambahan buat bayar cicilan panci.
"Itu... itu pelindung, Dek. Biar kalau jatuh nggak pecah."
"Oooooh," Adit manggut-manggut sok tahu. "Berarti kalau aku pakein serabut kelapa di kepala aku, aku nggak usah pake helm lagi ya kalau naik motor sama Papa? Kan aman, nggak bakal pecah!"
Siska sudah hampir menyerah. "Dek, ini esnya Tante kasih gratis aja ya, tapi syaratnya satu: kamu pulang sekarang, terus tanya semua itu sama Google, oke? Tante mau jualan, bukan mau ujian skripsi."
Adit menerima es itu dengan mata berbinar. "Wah, makasih Tante Cantik! Tante baik banget, pantesan kelapanya manis. Tapi Tante, pertanyaan terakhir banget..."
Siska sudah bersiap menutup kuping.
"Apa?" tanya Siska pasrah.
"Kenapa Tante jualan es kelapa? Kenapa nggak jualan es batu aja yang nggak perlu dikupas dan nggak punya rambut?"
Siska hanya bisa terduduk lemas di kursinya sambil melihat Adit pergi dengan riang gembira. Ia bergumam pelan, "Besok gue jualan plester mulut aja apa ya, khusus buat bocil kayak dia..."

